
foto: istana bogor/palimatipurwakarta
Sama seperti kota tua lainnya, Bogor memiliki jejak sejarah kota. Mulai dari prasasti tentang Kerajaan Pajajaran yang memiliki daerah kekuasaan seluas Jawa Barat dan Banten. Di Bogor pula diyakini sebagai pusat pemerintahan Prabu Siliwangi.
Udaranya yang begitu sejuk, alamnya yang eksotis, maka Belanda memilih Bogor sebagai tempat peristirahatan untuk melepas semua stres, sehingga dinamailah tempat ini Buitenzorg. Pada masa pemerintahan Belanda, Bogor juga menorehkan sejarah arsitektur bangunan dan kota. Sebuah villa yang dibangun oleh Gubernur Jendral G.W. Baron van Imhoff, yang nantinya menjadi Istana Bogor.
Gubernur Jendral Thomas Rafless membangun tanah sekitar Istana menjadi Kebun Raya, yang sekarang kita kenal sebagai Kebun Raya Bogor (KRB). Bila sekarang kita berjalan mengelilingi KRB, mulai dari jalan Insinyur H Juanda, Otto Iskandardinata, Raya Pajajaran, dan Jalak Harupat, begitu terasa KBR merupakan jantung dan paru-paru kota. KRB benar benar terletak di tengah kota.
Pedestrian
Berjalan di pedestrian yang lebar, memang cukup nyaman. Apalagi sambil ngobrol, dan menghirup segarnya udara kota. Asal berjalan di pagi hari, kalau agak siang kita akan banyak menghirup asap kendaraan. Setiap hari minggu, warga kota Bogor mendambakan suatu wadah untuk beraktivitas olahraga pagi, yang bebas dari deru kendaraan bermotor.
Di sisi lain, depan Istana Bogor, minggu pagi atau hari libur lainnya beberapa pedagang sayur seperti kangkung dan wortel sudah menunggu anak anak datang rekreasi. Mereka diantar orang tua menggunakan kendaraan bermotor parkir disepanjang jalan Ir. H Juanda. Karena padatnya warga yang memberi makan rusa yang hidup di halaman Istana Bogor, maka pedestrian kurang nyaman untuk digunakan. Pada akhirnya pedestrian di depan sekolah Regina Pacis ini sampai balai kota Bogor, sekarang tidak lagi sebersih dahulu, sungguh disayangkan.
Jika berjalan lagi kearah selatan, sepanjang jalan Ir, H. Juanda akan ditemui gereja Zebaoth. Gereja ini termasuk bangunan tua peninggalan kolonial Belanda, saya menyebutnya "Gereja Ayam" karena terdapat patung ayam di puncak menaranya. Gereja ini dahulu merupakan salah satu fasilitas dari Istana, sehingga letaknya menjadi satu halaman dengan Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor.
Pecinan
Agak menengok ke arah selatan, terdapat Pecinan di Bogor merupakan zona perdagangan dan pemukiman. Kawasan ini berada di sepanjang jalan Suryakencana ke arah selatan yang menjadi satu paket sejarah arsitektur kota Bogor. Pecinan terbentuk karena 2 faktor, yaitu faktor politik dan faktor sosial.
Pecinan ini terletak dekat dengan sumber mata air, bukit, dan lembah disepanjang zona ini. Di sebelah utara terdapat kelenteng Hok Tek Bio yang dianggap letak dari kepala Naga. Saat ini kelenteng masih bisa disaksikan di ujung jalan Suryakencana, meskipun bersebelahan dengan pasar bogor.
Sebenarnya zona Pecinan ini, indah sekali karena diapit oleh lembah dan sungai, yaitu sungai Ciliwung dan sungai Cipakancilan. Tapi seiring berkembangnya kota, pemandangan ini sulit dinikmati, karena sudah penuh dengan pemukiman.
Masih mengelilingi KRB, Jalan Otto Iskandardinata menyebrangi sungai Ciliwungi terdapat Tugu Kujang. Sepanjang jalan ini, banyak terdapat pedagang dengan barang khas Bogor, seperti talas, buah bisbul, buah kemang, kelinci, daun pakis, dan buah menteng.
Bogor kota lama yang berlomba dengan kemajuan perkembangan kota, sehingga sepanjang keliling KRB terasa sesak. Eksotis alamnya bertarung dengan hadirnya bangunan modern.
Sumber : www.property.okezone.com/sisi-lain-kota-bogor
Cari rumah..?? Propertykita Lebih banyak pilihanya...!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar