
foto Sinar Mas Land Plaza/Nur Januarita Benu-Okezone
Manusia pun seakan tersadarkan dengan kondisi alam saat ini yang tidak lagi dapat diprediksi seperti sedia kala. Pagi bisa jadi panas terik, namun saat tengah hari awan hitam pun tiba-tiba datang membungkus permukaan langit, kemudian hujan lebat pun turun membasahi bumi.
Perubahan iklim yang semakin tidak menentu ini, dipercaya sebagai salah satu penanda bumi tidak lagi "sehat". Belum lagi ditambah dengan bencana alam, seperti banjir, longsor, tsunami, dan lainnya.
Ini semua sontak membuat penghuni Bumi tersentak dan berusaha mencari jalan untuk penyelamatan. Paling tidak berusaha memperbaiki dan melestarikan milik alam yang sekiranya banyak yang sakit.
Di berbagai belahan dunia, kampanye menghijaukan bumi gencar dilakukan di segala aspek utamanya yang menyangkut gaya hidup. Tak ketinggalan industri properti yang beramai-ramai mengusung tema hijau dalam produk-produknya. Mulai dari hunian hijau hingga gedung perkantoran yang menggaungkan tema ramah lingkungan.
Katanya pada hunian maupun gedung-gedung hijau tersebut diterapkan desain bangunan dengan banyak bukaan atau tembok dinding gedung dari kaca serta menggunakan lampu hemat energi yang dapat menyimpan tenaga surya, AC watt kecil, furnitur berbahan alami serta ada pula yang memiliki mesin daur ulang air.
Tapi kemudian, muncul pertanyaan apakah dengan menerapkan konsep green tersebut tidak memberikan pengaruh angka pembangunan dan penjualan pada produk-produk properti tersebut?
Kalah beli menang pakai. Ini merupakan istilah yang sering digunakan dalam green property. Sebab, pada dasaranya peralatan yang ramah lingkungan tersebut harganya tidak murah. Bisa dilihat contohnya, pada inding beton yang biasa menggunakan semen jika diganti dengan kaca, tentunya perbedaan harganya sudah pasti jauh berbeda.
Chairman Sinar Mas Group Mukhtar Widjaja dalam pidatonya saat membuka gedung perkantoran baru di BSD City menyatakan, green property dan green architecture yang mereka terapkan pada gedung baru miliknya, yakni Sinar Mas Land Plaza memang cukup mahal.
Pasalnya gedung tersebut didesain serta dilengkapi peralatan ramah lingkungan. Misalnya pada lampu-lampu jalan sekitar gedung menggunakan lampu yang dapat menyimpan tenaga surya, begitu juga bagian dalamnya yang menggunakan lampu LED hemat energi. Peralatan-peralatan tersebut sudah tentu mahal, karena tidak seperti elktronika kebanyakan.
"Pembangunan gedung ini memang mengeluarkan biaya dua kali lipat dari pembangunan gedung kantor biasanya. Tapi kami yakin, meski dibangun dengan mahal, perawatan gedung kedepannya akan lebih mudah dan hemat," kata Mukhtar Widjaja.
Prinsip kalah beli menang pakai ini memang sangat diutamakan pada penerapan green building atau bangunan hijau. Sebab, sudah tentu barang-barang hemat energi tersebut mahal di pasaran, tapi untuk jangka panjangnya lebih tahan lama dan mudah dalam perawatan.
Demikian pula menurut arsitek dari Aedes Kevin Jose yang merupakan perancang gedung Sinar Mas Land Plaza. Dia mengatakan gedung tersebut dirancang dengan mengoptimalkan sinar matahari dan kekuatan angin.
"Secara harga memang cukup mahal, tapi bila dilihat dari segi fungsi dan penggunaan jangka panjangnya, green property ini tidaklah mahal. " All they say it expensive, but fundamentally it's not," ujar Kevin Jose.
Ujung-ujungnya adalah bicara kualitas. Barang mahal sudah pasti bermutu baik. Apalagi yang ramah lingkungan, tentu pemakaiannya akan bertahan lama. Karena kedepannya, inovasi akan terus diciptakan dalam segala hal yang berbau green sebagai langkah pelestarian lingkungan dan cinta alam.
Sumber : www.property.okezone.com/green-property-itu-mahal-loh
Cari rumah..?? Propertykita Lebih banyak pilihanya...!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar